
Oh..ikhwan…Parasmu amat rupawan…Penampilanmu sungguh mempesona dan menawan…Kadang aku bertanya : Allah itu menciptakanmu dari tanah apaan??
Aduh wan…kubilang begitu kok kau malah jumpalitan???Dasar….ikhwan paling ga bisa dikasih sedikit sanjungan…Awas wan..di depan antum ada lubang!!!
Oh ikhwan….Cuma sedikit yang kadang aku sayangkan…Kok kalian ga total sih jaga hati dan pandangan?Iya sih..kalo ketemu akhwat di jalan langsung nunduk dengan sopan…Tapi kalo di dunia maya sebagian kalian malah jadi ikhwan jejadian??
Pas lagi Fb-an…Tiap ada status baru dari akhwat pujaan dan jadi incaran…Komentar satu paket sama jempol ga pernah ketinggalan…Kata-kata sengaja di bikin puitisan..Biar si akhwat ke-GR-an dan selalu terbayang….Haduh….wan..wan….pengen deh kau kulempar ke selokan!!
Oh…akhwat…Parasmu sungguh cantik memikat…Meski seluruh tubuhmu tertutup jilbab dengan amat rapat…Eits…jadi akhwat musti jaim ya jangan sampai narsisnya kumat…Baru dibilang cantik gitu udah mau loncat-loncat!!
Oh akhwat….Gaya bicaramu itu selalu penuh semangat…Selalu punya ide brilian pas lagi rapat…Tapi…kenapa ya wat…Kalo pas di fb gayamu ga beda jauh sama yang non akhwat...Ngasih komentar ke ikhwan kadang suka dibuat-buat…Kadang malah becandaanmu udah kelewat...Hati-hati ya wat…Sekalipun dirimu ga ada niat…Tapi itu bisa bikin hati ikhwan berdebar hebat…Jangan-jangan nanti kena VMJ stadium empat!
Oh ikhwan dan akhwat…Kalian itu memang makhluk aneh yang keramat…Mustinya ditaruh di museum terdekat…Jarang ada lo ditengah generasi muda sekarang yang pada sesat…Tapi beruntunglah kalian yang udah dikasih hidayah dan rahmat…Jadi dambaan dan teladan buat umat…
Oh ikhwan dan akhwat…Kita ini memang bukan gerombolan malaikat…Yang bisa bebas gitu aja dari perbuatan maksiat…Hati-hati…semakin besar iman semakin syaitan itu dendam kesumat…
Ga ada kata menyerah menggoda manusia biar jadi makhluk bejat!So…yang halal bisa dibungkus jadi perbuatan dosa tak terlihat…
Nah…ikhwah fillah yang terhormat…Yuks…saling menjaga hijab dan malu ini dengan kuat…Dimanapun kita berada selalu jadi hamba Allah yang ta’at…Bahkan di dunia maya pun ada Allah yang melihat…Malu dong sama Allah dan malaikat pencatat…Disana bisa menjaga kok disini malah lewat??Mari luruskan niat…Bukan untuk saling mencari simpati baik ikhwan maupun akhwat…Oke wan..oke wat???Kalopun udah ga bisa nahan nafsu syahwat…Yo wes…tafadal segera lapor ke murabbi biar diproses cepat…Daripada nanti stadiumnya tambah parah bikin hati sekarat??????
copy dari pencerahanhati.com
Selengkapnya...
Showing posts with label tentang akhwat. Show all posts
Showing posts with label tentang akhwat. Show all posts
Posted by
SHANDY
on
07:45
Labels:
ikhwan,
ISLAM,
tentang akhwat
Posted by
SHANDY
on
18:39
Labels:
cerita perjalanan,
goresan pena,
ISLAM,
tentang akhwat
Pada hari Sabtu, 25 Juli 2009, ada dua peristiwa yang membuat saya kepikiran tentang banyaknya ikhwan yang ingin segera menikah dini (termasuk saya, hehehe). Peristiwa pertama, saat sedang menuju masjid kampus untuk shalat ashar, tepat pukul 14.25 wib, saya melihat seorang akhwat berdiri di depan pintu gerbang Universitas Airlangga. Berkali – kali ada mikrolet yang menawari dia untuk naik, namun semuanya ditolak. Baru setelah dari arah timur ada sebuah taksi yang berjalan ke arahnya, akhwat itu mau memanggilnya.
Peristiwa kedua, setelah shalat ashar, saya berjalan menuju gerbang untuk pulang. Saat itulah saya melihat seorang akhwat lain yang sedang ngebut dengan penuh semangat naik sepeda pancal. (kayaknya udah telat datang halaqah nih) Namun, masya Allah, tak tampak sedikit pun rasa lelah di wajah akhwat itu. Wajahnya tetap berseri – seri dan penuh semangat.
Dua peristiwa itu yang membuat saya berpikir seandainya dua akhwat itu dapat dianggap sebagai dua tipe akhwat. Lantas saya teringat pada tulisan yang pernah saya baca. Yang menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan kesanggupan untuk menafkahi istri bukanlah berarti si ikhwan harus mapan terlebih dahulu. Cukuplah jika ikhwan tersebut mau berusaha dengan sekuat tenaga untuk menafkahi keluarganya. Pendeknya, untuk menikah tidak perlu menunggu sampai mapan lah.
Oke jika memang tidak harus mapan. Itu tidak akan menjadi masalah jika yang kita (ikhwan) dapatkan sebagai istri kelak adalah akhwat tipe kedua, yang begitu bersemangat menjalani hari – hari dan segala aktivitasnya walaupun dengan fasilitas yang tidak begitu berlebihan, naik sepeda pancal pun oke. Jika dapat istri seperti ini, cukuplah nanti kita antarkan dia kemana – mana naik motor. Hujan dan panas kita hadapi berdua. (Ceilaaaaahhh)
Namun bagaimana jika yang kita (sekali lagi, ikhwan. Yang nulis ikhwan ini) dapatkan sebagai istri adalah akhwat tipe pertama? Jika kita belum mapan, sanggupkah kita untuk memenuhi nafkah dia yang tentu saja tidak biasa hidup pas-pasan? Jangan dulu berpikir soal susu bayi yang harganya selangit, atau biaya sekolah anak yang semakin tidak merakyat. Coba kita berpikir, jika nanti istri kita ada halaqah, dia berangkat naik taksi. Mau ngisi kajian, naik taksi lagi. Mau belanja, nggak mau ke pasar tradisional yang becek. Maunya ke HERO, naik taksi lagi. Mau mudik jenguk ortu atau mertua, ga mau diajak naik kereta ekonomi, maunya naik yang eksekutif atau naik pesawat. Dan lain – lain.
Jika seperti itu, cukupkah kita berkata, yang penting adalah kesanggupan untuk berusaha menafkahi, sementara pendapatan kita sendiri masih pas – pasan?
Selengkapnya...
Peristiwa kedua, setelah shalat ashar, saya berjalan menuju gerbang untuk pulang. Saat itulah saya melihat seorang akhwat lain yang sedang ngebut dengan penuh semangat naik sepeda pancal. (kayaknya udah telat datang halaqah nih) Namun, masya Allah, tak tampak sedikit pun rasa lelah di wajah akhwat itu. Wajahnya tetap berseri – seri dan penuh semangat.
Dua peristiwa itu yang membuat saya berpikir seandainya dua akhwat itu dapat dianggap sebagai dua tipe akhwat. Lantas saya teringat pada tulisan yang pernah saya baca. Yang menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan kesanggupan untuk menafkahi istri bukanlah berarti si ikhwan harus mapan terlebih dahulu. Cukuplah jika ikhwan tersebut mau berusaha dengan sekuat tenaga untuk menafkahi keluarganya. Pendeknya, untuk menikah tidak perlu menunggu sampai mapan lah.
Oke jika memang tidak harus mapan. Itu tidak akan menjadi masalah jika yang kita (ikhwan) dapatkan sebagai istri kelak adalah akhwat tipe kedua, yang begitu bersemangat menjalani hari – hari dan segala aktivitasnya walaupun dengan fasilitas yang tidak begitu berlebihan, naik sepeda pancal pun oke. Jika dapat istri seperti ini, cukuplah nanti kita antarkan dia kemana – mana naik motor. Hujan dan panas kita hadapi berdua. (Ceilaaaaahhh)
Namun bagaimana jika yang kita (sekali lagi, ikhwan. Yang nulis ikhwan ini) dapatkan sebagai istri adalah akhwat tipe pertama? Jika kita belum mapan, sanggupkah kita untuk memenuhi nafkah dia yang tentu saja tidak biasa hidup pas-pasan? Jangan dulu berpikir soal susu bayi yang harganya selangit, atau biaya sekolah anak yang semakin tidak merakyat. Coba kita berpikir, jika nanti istri kita ada halaqah, dia berangkat naik taksi. Mau ngisi kajian, naik taksi lagi. Mau belanja, nggak mau ke pasar tradisional yang becek. Maunya ke HERO, naik taksi lagi. Mau mudik jenguk ortu atau mertua, ga mau diajak naik kereta ekonomi, maunya naik yang eksekutif atau naik pesawat. Dan lain – lain.
Jika seperti itu, cukupkah kita berkata, yang penting adalah kesanggupan untuk berusaha menafkahi, sementara pendapatan kita sendiri masih pas – pasan?
Subscribe to:
Posts (Atom)
