
Bulan itu saya benar2 kurang waras sepertinya. Lihat saja, hanya berselang 2 minggu setelah traveling ke Sarangan, saya kembali berangkat. Kali ini saya menuju Pulau Sempu, yang sudah lama membuat saya penasaran akan keindahannya.
Sebenarnya, itu juga bukan kesalahan saya. Namun karena anak2 Sunflower Adventure yang kurang konsisten. Rencana awal keberangkatan ke Sempu adalah pada hari tepat dimana saya pergi ke Sarangan. Namun ada yang bilang rencana itu terpaksa dibatalkan karena banyak yang tidak bisa ikut. Padahal saya sudah mengepak ransel beberapa hari sebelumnya. Dan saya adalah orang yang paling malas jika harus membongkar ransel kembali karena tidak jadi terpakai. Dan jadilah, saya berangkat ke Sarangan sendirian.
Namun, 2 minggu kemudian. Seorang kawan mengabari kalau akhir minggu itu, kami akan berangkat ke Sempu. Tak peduli sapa yang ikut. Rupanya yang jengkel karena penundaan rencana itu bukan hanya saya. Yess!! Hehe..
Aslinya sih saya sendiri kurang begitu semangat untuk traveling lagi bulan itu. Alasan klasik, dana saya sudah hampir habis terpakai untuk pergi ke Sarangan. Namun, hanya beberapa hari menjelang hari H, ada kabar yang membuat saya ingin pergi kemana saja asal meninggalkan kota ini. Benar2 kacau pikiran saya waktu itu.
Masalah baru muncul. Mommy ga setuju kalau saya pergi lagi. Mengingat saya baru 2 minggu lalu pulang dari Sarangan. Alasannya takut saya kecapekan lalu sakit. Beneran deh. Padahal saya sudah mahasiswa juga, tapi kadang masih suka dianggap sebagai anak kecil yang manis. Weleh.. -_-"
Perlu waktu cukup lama juga untuk membujuk Mommy supaya segera merilis surat izin buat saya. Tapi jangan panggil saya Shandy klo gagal merayu beliau. Tepat di masa injury time, izin pun keluarlah. AlhamduliLLah. ^_^
Kami berkumpul di rumah salah seorang teman di daerah Tanggulangin pukul 22.00 WIB. Sengaja kami berangkat malam hari. Tujuannya agar tidak kepanasan di jalan sekaligus juga mengatur agar tiba disana pada pagi hari.
Ternyata yang ikut lumayan banyak juga. Total ada 10 orang yang terbagi dalam 5 motor. Setelah makan, mengecek persiapan, dan berdoa, kami pun berangkat. Perjalanan yang lumayan panjang, maka dari itu harus dipastikan semua sudah makan agar tidak ada yang masuk angin. Total perjalanan selama 6 jam dari Sidoarjo sampai ke Pantai Banyubiru di kecamatan Sumbermanjing Wetan, Malang. Kami sampai disana sekitar pukul 04.30 pagi. Shalat dulu dan istirahat dah...
Setelah menitipkan motor di rumah penduduk, kami sarapan dulu di warung sambil mengisi bekal air. Ini yang tidak boleh sampai terlupakan kalau mau pergi ke Sempu. Air tawar. Karena disana tidak ada air tawar sama sekali. Maka kami membeli air tawar untuk mengisi botol2 plastik kosong yang sudah kami bawa dari rumah. Total ada 30-an botol. Dan satu lagi, air yang dijual disini adalah air mentah. Jadi kalau ada yang tidak tahan minum air mentah, maka siapkan Aqua botolan yang banyak!!
Apakah ada yang bertanya, kenapa tidak membawa air galon saja sih??? Jawabannya nanti. Akan saya tulis di bawah. Lanjutkan saja dulu membacanya. Ok? ^_^
Setelah mengurus perizinan ke kantor BKSDA setempat, kami pun menyewa perahu untuk menyeberang ke pulau Sempu. Perjalanan dengan perahu hanya 15 menit. Namun yang mengesankan adalah air lautnya yang begitu bening berwarna kebiruan. Bahkan sampai dasar laut dan ikan2 yang berenang di dalamnya terlihat.
Kami diturunkan di salah satu pulau. Sebelum meninggalkan kami, bapak tukang perahu bertanya kapan rencananya kami pulang. Dengan demikian beliau dapat menjemput kami kembali. Tidak lupa juga kami mencatat nomor perahu dan nomor ponsel bapak itu.
"Nah, sampai juga akhirnya." saya berkata dalam hati.
Dan seolah tahu apa yang saya pikirkan, seorang teman yang juga pemandu kami berkata, "nah, bagian susahnya baru saja akan dimulai." oh no...
Ternyata benar saja. Perjalanan menyusuri hutan selama 2,5 jam itu lumayan berat. Hanya ada jalan setapak yang dipenuhi lumpur karena hujan semalam. Jadi kami harus berjalan ekstra hati2 sambil berpegangan ke pohon2 di sekitar. Itupun celana dan sepatu sudah tidak karuan warnanya karena berkali2 terpeleset lumpur licin. Nah sekarang, bisakah dibayangkan jika ada yang harus berjalan sambil menggotong galon air? Bisa2 dia jatuh terguling2 dengan galonnya itu.
Dan itu masih ditambah dengan harus menyeberangi parit lumpur dengan meniti kayu kecil, dan di tempat lain harus melewati batangan pohon roboh dengan diameter 1,5 meter. Maka saya rasa tepat jika Sempu disebut pulau surga. Sangat indah, tapi juga sulit dicapai. Hehe...
To be continued...
Selengkapnya...

Perjalanan kali ini dimulai secara dadakan. Karena sebelumnya memang tidak ada rencana untuk ke Sarangan. Namun karena melihat agenda untuk week-end yang kosong, dan ditambah pikiran yang lagi suntuk, akhirnya langsung berangkat sendirian dengan persiapan seadanya.
Saya berangkat hari Jum'at. Tepat setelah shalat Jum'at. Dari kota Sidoarjo, naik bus di Bungurasih dengan tujuan Maospati. Sebetulnya sudah diingatkan oleh teman saya, bahwa bus yang mampir ke Maospati hanya 2, yaitu bus Sumber Kencono dan Mira. Namun karena saya lupa, akhirnya termakan bujukan awak bus yang mengatakan bahwa nanti busnya juga berhenti di Maospati. Jadilah saya naik bus itu.
Perjalanan lancar sampai memasuki Terminal Madiun. Sesampainya disana sudah pukul 18.20 WIB. Ternyata awak bus tadi menipu saya. Saya diturunkan di Madiun, karena busnya mau lanjut ke Ponorogo dan tidak mampir di Maospati. (Maklum, pertama kalinya pergi ke daerah Magetan. Jadi belum tahu medan)
Yang menyebalkan lagi, adalah banyaknya tukang ojek dan sopir yang memaksa saya naik kendaraan mereka dengan tarif gila-gilaan. Bayangkan saja Madiun - Maospati Rp. 100.000,- (gila apa???). Akhirnya saya bertanya pada seorang pemilik kios di terminal Madiun, apakah jam segini masih ada bus Sumber Kencono yang ke Maospati. AlhamduliLLah, beliau mau menunjukkan tempatnya.
Masih ada dua bus Sumber Kencono di sana. Akhirnya saya naik ke salah satunya. Hanya bayar tiket Rp 3.000 untuk sampai ke tujuan. Sesampai di terminal Maospati, hari sudah pukul 19.30 WIB, akhirnya menuju masjid terminal dulu untuk shalat. Ternyata di sana baru mulai melaksanakan shalat Isya. Seusai shalat keluar untuk mencari warnet. Selain untuk surfing, juga untuk meninjau apakah warnetnya layak untuk dijadikan tempat bermalam. Karena biasanya dengan membayar paket malam di warnet, kita bisa tidur di situ sampai pagi. Strategi untuk menghemat ongkos. Hehe. Namun warnet yang ada ternyata tidak bisa dijadikan tempat bermalam, karena tempatnya tidak disekat. Jadi hanya ada komputer - komputer yang dijajar sepanjang dinding.
Maka saya memutuskan untuk balik ke terminal. Rencana kedua yaitu tidur di bangku - bangku panjang peron terminal. Rencana yang riskan sebetulnya. Karena bisa saja backpack digerayangi orang sewaktu kita tidur. Namun saya lihat pintu masjid masih terbuka, walau sudah sepi dan lampu - lampu sudah dipadamkan. Ketika saya bertanya - tanya ke orang sekitar, ternyata memang di masjid itu diizinkan untuk bermalam. Akhirnya saya tidur di situ, dengan berbantalkan ransel yang dilapisi jaket. AlhamduliLLah, nyenyak juga. Saya tidur sampai hampir subuh.
Seusai shalat subuh, saya keluar dengan maksud mencari kopi. Ternyata di depan terminal sudah ada minibus dengan tujuan Magetan. Niat mencari kopi saya batalkan dan langsung naik minibus itu. Di terminal Magetan, saya mencari kendaraan L300 dengan tujuan Sarangan, kalau tidak ada berarti turun di Pasar Plaosan. Ternyata ada. Jadi saya naik L300 itu. Berdesakan dengan pedagang sayur dan petani yang berangkat ke perkebunan sayur di sekitar Sarangan. Perjalanan lancar dengan rute jalan yang berkelok - kelok dan pemandangan indah di kanan - kiri. Beruntung saya bisa duduk di jok depan, sehingga bisa leluasa menikmati pemandangan.
Sesampai di Sarangan, hari masih terlalu pagi sepertinya. Karena para pedagang masih banyak yang belum buka. Dan tempat yang pertama kali saya tuju adalah: toilet. Hehe.. Kemudian berkeliling di sekitar telaga. Banyak yang menawari untuk naik kuda atau ngebut dengan speedboat di telaga. Namun karena lebih kepingin jalan - jalan (aslinya sih karena sayang duit. wkwk), saya dengan sangat terpaksa menolak tawaran baik mereka.
penjual sate kelinci. Saya akhirnya menyempatkan sarapan sate kelinci dulu sekalian menanyakan jalan menuju air terjun Tirtasari. Ternyata saya sedikit kebablasan. Jalan naik ke air terjun ada di sebelah patung pesawat terbang di pojok barat daya telaga Sarangan (kalau saya tidak salah arah sih. hehe)
Naik ke air terjun cukup menyenangkan. Rute yang dilalui relatif mudah. Namun yang bikin sebal adalah banyaknya pungli di sepanjang jalan. Total 4 kali saya ditarik pungutan dengan dalih perbaikan jalan, dll. Padahal di pintu masuk sudah bayar tiket. Tapi saya berusaha menghibur diri dengan melihat pemandangan di sepanjang jalan yang dihiasi tebing-tebing dan perkebunan sayur.
Ternyata air terjunnya kecil saja. dan ditampung di kolam kecil di depannya sebelum mengalir ke sungai. Air terjun ini ternyata banyak dipakai orang untuk bertapa. Entah apa yang mereka cari. Katanya sih klo habis mandi disini, bisa awet muda. Weleh, saya juga mandi disini, apakah saya juga awet muda nantinya? Semoga saja sih ya. hehehe... ^_^
Oh ya, kalau ke Tirtasari sebaiknya jangan terlalu siang. Karena lewat tengah hari biasanya turun hujan dan setelah itu kabut akan menghalangi pandangan. Sehingga cukup membahayakan juga. Dan sialnya, saya justru terjebak hujan disana. Sehingga begitu hujan berhenti, tanpa membuang waktu lagi saya langsung turun ke Sarangan.
Hampir saja saya tergoda untuk meneruskan perjalanan ke Tawangmangu. Karena ada seorang sopir L300 yang menawarkan untuk kesana dengan tarif Rp. 15.000 per orang. Naik ojek juga bisa, tentu saja dengan tarif yang lebih mahal. Namun setelah mengecek kondisi finansial yang ada, saya memutuskan untuk langsung pulang saja. Kalau tidak, bisa2 saya harus menggadaikan celana untuk ongkos pulang. Hehe..
Setelah naik L300 dan disambung minibus sampai ke terminal Maospati, saya memutuskan untuk shalat sambil menunggu seorang sahabat saya yang minta dibelikan salak dari Sarangan (harus dari Sarangan!! kata dia). Saya ga tau dia ngidam atau apa, tapi ga apalah. Sekali2 menyenangkan orang kan berpahala, ya ga? Apalagi ternyata saya butuh bantuan dia untuk mengambilkan uang di ATM. hehe, impas.
Sahabat saya ini kemudian menyarankan, jangan naik SK kalau pulang karena terkenal suka ugal-ugalan. Tapi begitu dia menghilang dan di depan ada SK menunggu, saya ga pikir panjang lagi. Entah nanti saya pulang ke rumah atau ke surga, sebodo amat. Dah capek ni badan, masa suruh menunggu bis yang belum karuan datangnya? Akhirnya dengan mengucap bismillah, saya naik SK, mencari tempat duduk, dan tidur. Zzzzz....
Selengkapnya...
Peristiwa kedua, setelah shalat ashar, saya berjalan menuju gerbang untuk pulang. Saat itulah saya melihat seorang akhwat lain yang sedang ngebut dengan penuh semangat naik sepeda pancal. (kayaknya udah telat datang halaqah nih) Namun, masya Allah, tak tampak sedikit pun rasa lelah di wajah akhwat itu. Wajahnya tetap berseri – seri dan penuh semangat.
Dua peristiwa itu yang membuat saya berpikir seandainya dua akhwat itu dapat dianggap sebagai dua tipe akhwat. Lantas saya teringat pada tulisan yang pernah saya baca. Yang menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan kesanggupan untuk menafkahi istri bukanlah berarti si ikhwan harus mapan terlebih dahulu. Cukuplah jika ikhwan tersebut mau berusaha dengan sekuat tenaga untuk menafkahi keluarganya. Pendeknya, untuk menikah tidak perlu menunggu sampai mapan lah.
Oke jika memang tidak harus mapan. Itu tidak akan menjadi masalah jika yang kita (ikhwan) dapatkan sebagai istri kelak adalah akhwat tipe kedua, yang begitu bersemangat menjalani hari – hari dan segala aktivitasnya walaupun dengan fasilitas yang tidak begitu berlebihan, naik sepeda pancal pun oke. Jika dapat istri seperti ini, cukuplah nanti kita antarkan dia kemana – mana naik motor. Hujan dan panas kita hadapi berdua. (Ceilaaaaahhh)
Namun bagaimana jika yang kita (sekali lagi, ikhwan. Yang nulis ikhwan ini) dapatkan sebagai istri adalah akhwat tipe pertama? Jika kita belum mapan, sanggupkah kita untuk memenuhi nafkah dia yang tentu saja tidak biasa hidup pas-pasan? Jangan dulu berpikir soal susu bayi yang harganya selangit, atau biaya sekolah anak yang semakin tidak merakyat. Coba kita berpikir, jika nanti istri kita ada halaqah, dia berangkat naik taksi. Mau ngisi kajian, naik taksi lagi. Mau belanja, nggak mau ke pasar tradisional yang becek. Maunya ke HERO, naik taksi lagi. Mau mudik jenguk ortu atau mertua, ga mau diajak naik kereta ekonomi, maunya naik yang eksekutif atau naik pesawat. Dan lain – lain.
Jika seperti itu, cukupkah kita berkata, yang penting adalah kesanggupan untuk berusaha menafkahi, sementara pendapatan kita sendiri masih pas – pasan?
