selamat datang di rumah sederhana saya. mari bersama berusaha mengumpulkan hikmah yang terserak di antara semesta kehidupan, dalam upaya menyadarkan diri bahwa kita hanyalah manusia.
Showing posts with label akhlak muslim. Show all posts
Showing posts with label akhlak muslim. Show all posts
Posted by SHANDY on 09:29

Ajaran Islam telah lama menunjukkan cahaya kebajikannya untuk menerangi kehidupan umat manusia. Islam menorehkan sejarah (hingga saat ini dan masa-masa yang akan datang) dengan tinta emas kemulyaan ajaran-Nya. Tak terhitung lagi pengakuan dengan intan permata tentang tingkah laku (akhlak) yang baik. Dari kondisi aman hingga perang besar, dari anak-anak hingga yang tua, dari siang hingga malam, perjalanan Islam tak pernah lepas dari ketinggian akhlak, keluhuran budi, keindahan krama, kemulyaan jiwa. Karena memang akhlak ditempatkan dalam posisi yang sangat tinggi. Dengan akhlak kita bisa mengetahui jati diri seseorang. Bak sebuah kendi air yang hanya akan mengeluarkan/memuntahkan apa-apa yang ada didalamnya, bila didalam berisi air keluarlah air, bila kopi keluarlah kopi, dan bila susu maka susulah yang akan keluar darinya. Kita tidak pernah dapat melihat sebelumnya isi dari kendi namun kita bisa melihat apa yang dikeluarkannya. Begitulah akhlak.



PENGERTIAN AKHLAK
Kata akhlak berasal dari bahasa Arab “ Akhlaaq”, bentuk jama’ dari kata “Khuluk” yang berati tabiat, watak, perangai, dan budi pekerti. Al Ghazali memberi batasan sebagai berikut : “Khuluk adalah hal ikhwal yang melekat dalam jiwa, darinya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa dipikir dan diteliti”. Jadi akhlak ada dua macam akhlak baik dan akhlaq buruk. Tentunya dibutuhkan parameter atau ukuran-ukuran akhlak itu dikatakan baik atau buruk. Dari sini timbul pertanyaan tentang sumber-sumber akhlak.


SUMBER-SUMBER AKHLAK
Rasulullah saw diutus dengan tugas menyempurnakan budi pekerti dan membina akhlak, seperti dinyatakan dalam hadist: Bahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” (HR Bukhori dalam adab Al Mufrad). Perilaku Rasulullah saw sendiri berpola pada wahyu Allah yaitu Al Qur’an. Aisyah ditanya mengenai akhlak Rasulullah, “ Sesungguhnya akhlak Rasulullah itu adalah Al Qur’an “(HR Muslim). Hadist tersebut menunjukkan bahwa Al Qur’an merupakan sumber utama dan pertama bagi akhlak. (QS 68:4). Selanjutnya selain Al Qur’an, sumber lainnya adalah Sunnah Rosul. Manusia juga mendapatkan karunia dari Allah berupa hati nurani yang dapat membedakan antara hal-hal yang baik dan yang buruk, sebagai mana diriwayatkan dalam Hadits Nabi riwayat Ahmad bahwa pada suatu hari seorang sahabat bernama Wabishah bertanya kepada Nabi tentang al-birr (kebaikan) dan al-itsm (dosa, keburukan), yang kemudian diberi jawaban oleh Nabi SAW : “Hai Wabhisah, bertanyalah kepada hati nuranimu sendiri: kebaikan adalah sesuatu yang jika kau lakukan jiwamu merasa tenang, hati nuranimu pun merasa tenteram, sedang keburukan adalah sesuatu yang jika kau lakukan jiwamu bergejolak dan hati nuranimu pun berdebar-debar, meskipun orang banyak memberi tahu kepadamu (lain dari yang kau rasakan)”.


HATI NURANI SEBAGAI SUMBER AKHLAK
Hati nurani sebagai sumber akhlak menimbulkan pertanyaan tersendiri dari aspek terjamin tidaknya sebab dalam diri manusia juga terdapat hawa nafsu yang memiliki potensi besar membawa kearah keburukan, sebagaimana ditegaskan dalam Surat Asy Syam ayat : 7 –10 yang mengajarkan : Artinya :“ Demi jiwa dan yang menyempurnakannya : (Allah) mengilhamkan padanya (jalan) kejahatan dan kebaikan: sungguh berbahagialah orang yang mensucikannya, dan sungguh gagallah orang yang mengotorinya”.


Jadi agar hati nurani selalu hidup, suaranya harus selalu nyaring terdengar, pemiliknya harus selalu menyucikan jiwanya, mendekatkan diri kepada Allah. Hati nurani yang selalu hidup sajalah yang dapat menjadi sumber nilai akhlak sebagaimana yang diajarkan dalam hadist di atas.


Tidaklah cukup hanya mengetahui makna akhlak yang baik dan akhlak yang buruk tetapi yang penting adalah mengamalkan dan mempraktekkan akhlak yang mulia. Mempelajari akhlak tidak cukup dengan iImu melainkan hasil pembinaan dan latihan yang terus menerus (istimroriyyah). Membentuk akhlak yang baik tidaklah cukup karena bisa atau mampu tetapi mesti karena biasa (habit/kebiasaan). Akhlak yang baik bukan hanya kata-kata yang indah, menarik dan menyenangkan orang yang dikemas dengan gaya retorika yang memukau, melainkan harus disertai keikhlasan. Jika tidak demikian, akhlak tersebut akan menjadi tipuan dan rayuan yang berbahaya.


Posisi akhlak tidak seperti halnya kesenangan atau keme¬wahan. Tetapi, akhlak adalah nama dari suatu prinsip hidup. Islam telah menyebut¬kan satu demi satu semua kebajikan dan prinsip-prinsip akhlak, di samping telah menganjurkan para pengikutnya untuk menjadi¬kan akhlak sebagai bagian dan kehidupannya. Jika kita mengum¬pulkan semua ucapan Nabi Muhammad saw. tentang betapa pen¬tingnya watak akhlak yang baik, maka berjilid-jilid buku harus disiapkan, tidak terhitung jika dikaitkan dengan ucapan-ucapan yang harus diperbaiki. Sebelum kita menyebutkan kebaikan-kebaikan itu satu per¬satu, dan pernyataan yang lebih detail, akan lebih baik jika kita kutip beberapa contoh yang memperlihatkan betapa kuat dan kesungguhan Islam dalam memperhatikan watak akhlak yang baik bagi umatnya. Usamah menyatakan, “Kami tengah duduk-duduk bersama Rasulullah saw., begitu heningnya sehingga tak seorang pun ber¬usaha untuk membuka pembicaraan. Tidak berapa lama, seseorang telah datang dan bertanya, di antara hamba Allah, siapakah gerangan yang paling dikasihi, ya Rasulullah? Rasulullah saw. menjawab, “Seseorang yang mem¬punyai akhlak terbaik!” (Ibnu Hiban).


Hadits lain mengatakan, mereka bertanya, Apakah yang ter¬baik yang diberikan kepada manusia? Rasulullah saw. menjawab, “Karakter akhlak terbaik.” (at-Tirmidzi)
Rasulullah saw. bertanya, “Muslim manakah yang paling ber¬takwa?” Rasulullah saw. menjawabnya sendiri. “Orang yang memiliki akhlak terbaik.” (ath-Thabrani)


Abdullah bin Anwar mencenitakan sebagai berikut:
Saya pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Haruskah saya mengatakan siapakah di antara kalian yang paling mendekatiku dan pada hari pengadilan kelak paling dekat denganku?” Beliau mengulangi pertanyaan tersebut sampai dua atau tiga kali. Orang¬-orang kemudian mernohon agar Rasulullah saw, menerangkan tentang orang-orang yang dimaksud. Kernudian Rasulullah saw. menjawab, “Dialah di antara kalian yang paling berakhlak. “(Ahmad)
Dalam hadits lain, Nabi Muhammad saw. bersabda:
“Pada Hari Pembalasan tidak ada yang lebih berat timbangan¬nya danipada akhlak yang balk. Allah tidak menyukai orang yang berkata keji, dan orang yang membawa akhlak yang baik akan mencapai derajat orang yang melaksanakan shalat dan menjalani shaum karena akhlaknya itu. “(H.R. Imam Ahmad).


Tidak ada yang mengejutkan jika ajaran ini datang dan seorang ahli filsafat yang sangat sibuk mengkampanyekan pembaruan akhlak. Tetapi, kejutan terbesar karena ajaran ini datang dari se¬orang yang berusaha keras menegakkan suatu ajaran keimanan yang baru, sementara agama lain mengalihkan perhatian hanya terhadap bentuk-bentuk penyembahan dan pemujaan. Rasul terakhir telah berseru kepada umatnya untuk melakukan berbagai bentuk ibadah dan juga menegakkan suatu pemerintahan yang ter¬bentuk dalam perjuangan dan pertempuran-pertempuran yang panjang dengan sejumlah musuh. Di samping itu, meluaskan ajaran dan meningkatkan berbagai tugas dan para pengikutnya. Rasulul¬lab saw. menyampaikan suatu fakta bahwa pada hari akhirat kelak, tak ada timbangan yang paling berat kecuali watak akhlak yang paling baik. Realitas ini tidak disembunyikan, bahwa di dalam Islam, nilai akhlak sangatlah tinggi.


Rasulullah saw. menekankan secara sungguh-sungguh pninsip yang tak ternilai, sehingga umatnya akan mengerti dengan jelas bahwa nilai-nilai akhlak tidak akan berubah.Anas mencenitakan sebagai berikut: Rasulullah saw. pernah bersabda:
“Seorang hamba sahaya dapat rneningkat derajatnya dengan cara berkelakuan yang baik, jujur untuk selamanya, walaupun ía lemah atau kurang dalam melakukan ibadah. Tetapi jika ia berwatak kasar, maka ía akan dicampakkan ke dalam neraka jahanam yang paling dalam”. (Ath-Thabrani)
Abu Hurairah telah menukil ucapan Rasulullah saw. sebagai berikut: “Kemuliaan seorang Mu’min ditentukan oleh ketaatannya akan agama, tenggang rasa adalah intelegensinya dan keturunannya adalah watak yang baik.” (al-Hakim)


Untuk menyuburkan dan mengembangkan akhlak yang baik di antara para pengikutnya, maka sang pemimpin harus berakhlak lebih baik dibandingkan para pengikutnya. Rasulullah saw. adalah contoh teraik dan akhlak mulia yang harus diteladani, yang memang ia serukan kepada umatnya. Sebelum Ia menasihati agar berakhlak baik dalam peri kehidupan, beliau telah menaburkan benih-benih akhlak yang luhur dengan cana melakukannya sendiri.


Abdullah bin Umar berujar, “Rasulullah saw. tidak pernah berbuat kasar dan bersikap buruk. Beliau selalu bersabda bahwa orang terbaik di antara kalian adalah mereka yang berakhlak terbaik.” (Bukhari)
Anas mengatakan, “Saya mendampingi Rasulullah saw. selama 10 tahun. Beliau tidak pernah berkata “uh” (ungkapan tidak senang) dan tidak pernah bertanya kepadaku mengapa saya ber¬buat ini atau itu.” (Muslim)


Juga diriwayatkan olehnya, “Ibuku selalu mencium (merangkul) tangan Rasulullah saw., kapan pun ia inginkan. Jika seseorang datang kepadanya dan berjabat tangan, Rasulullah saw. tidak pernah melepaskannya sampai orang tersebut melepaskan genggamannya, dan beliau tidak pernah memalingkan mukanya dan seseorang, sebelum orang tersebut memalingkan atau menundukkan muka. Dan dalam suatu pertemuan, beliau tidak pernah tampak bersila sehingga lututnya Iebih ke depan dibandingkan yang lainnya.” (at-Tirrnidzi)


Siti ‘Aisyah berkata, “Jika ada dua alternatif yang harus dipilih Rasulullah saw., (maka beliau) akan rnemilih alternatif yang paling mudah, asal tidak ada dosa dalam alternatif tersebut. Jika ada pekerjaan yang mengandung dosa, maka beliau akan menjauhinya sejauh-jauhnya.”
Rasulullah saw. tidak akan pernah menentang seseorang secara pribadi. Jika perintah Allah dilanggarnya, maka beliau akan sangat murka. Rasulullah saw. tidak pernah memukul dengan tangannya, tidak terhadap istri-istrinya, tidak pula terhadap pelayannya. Memang, beliau selalu bertempur dalam suatu peperangan di jalan Allah. (Muslim)


Anas menuturkan sebagai berikut: “Ketika saya sedang berjalan dengan Rasulullah saw., beliau terperangkap cadar yang tebal di tubuhnya. Seorang Arab menarik cadar tersebut terlalu keras, sehingga bahunya terlihat olehku: saya sangat tersinggung karena¬nya. Si Arab tersebut kemudian berkata, “Ya Muhammad, berilah aku bagianku dan kekayaan yang diberikan Allah kepadamu.” Rasulullah saw. berpaling padanya dan tertawa, kemudian beliau memerintahkan aku agar memberikan sumbangan padanya”. (al ¬Bukhari)


Siti ‘Aisyah menceritakan bahwa Rasulullah saw. pernah ber¬kata, Allah adalah Maha Pemurah, Dia menyukai kemurahan dan memberikan ganjaran atas kemurahan itu, dan tidak untuk keba¬likannya (kekasaran). Tetapi lebih dari itu, sejumlah ganjaran tidak beliau berikan untuk sesuatu. (Muslim)
Menurut hadits lain diceritakan sebagai berikut; kelembutan dalam hal apa pun akan menjadi indah karenanya, dan jika kelem¬butan dicampakkan, jadilah jelek karenanya.
Jarir menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:“Imbalan atas kelembutan hati tidak Dia berikan untuk kebodoh¬an; Manakala Allah menghendaki seorang budak menjadi kekasih¬Nya, Dia berikan kelembutan. Keluarganya yang menerima kelem¬butan ini akan memperoleh kebajikan.” (ath-Thabrani)
Abdullah bin Hanits telah meriwayatkan bahwa Ia tidak pernah melihat orang lain yang lebih banyak tersenyum dibandingkan Rasulullah saw. (at-Tirmidzi)
Siti ‘Aisyah pernah ditanya tentang apa yang diperbuat Rasu¬lullah saw. selama beliau berada di rumahnya. Siti ‘Aisyah men¬jawab, Beliau selalu dilayani orang-orang di rumahnya, dan jika tiba saatnya shalat, beliau selalu menganibil air wudhu’ dan pergi ke luar untuk shalat. (Muslim)
Anas telah menuturkan, “Rasulullah saw. adalah orang terbaik di antara seluruh manusia. Saya mempunyai seorang kakak angkat yang bernama Abu Umair. Ia mempunyai penyakit yang disebut naghir. Rasulullah selalu membesarkan hatinya dan menyapanya, “Wahai Abu Umair, apa yang terjadi dengan “naghirmu?” (al-Bukhani)


Dan kebiasaan dan perilaku Rasulullah saw., salah satu yang paling terkenal adalah ia benan-benar seorang philantropik, yaitu mencintai kemanusiaan. Beliau tidak kikir dalam segala hal. Beliau sangat pemberani dan besar hati. Beliau tidak pernah berpaling di dalam kebenaran. Beliau mencintai kebenaran dan keadilan. Dalam setiap mengambil keputusan, beliau tidak pernah licik dan menim¬bulkan ekses atau tidak adil. Dalam seluruh kehidupannya, beliau selalu benar, jujur, dan terpercaya.


ASPEK-ASPEK AKHLAK

Melihat sekian banyak contoh diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa akhlak meliputi segala hal. Seluas ajaran Islam itu sendiri. Akhlak yang tinggi bukan hanya ditujukan kepada sesama umat Islam, tetapi meliputi segala hal. Akhlak kita kepada Allah, Rosul, diri sendiri, keluarga, orang tua, anak, teman, tetangga, makhluk hidup yang lain, lingkungan, dsb. Berikut ini beberapa aspek akhlak :


1. Akhlak terhadap Allah. Secara garis besar disebutkan bahwa manusia dan jin diciptakan untuk beribadah kepada Allah (Q.S. 51 : 56). Beribadah kepada Allah berciri tunduk, taat , dan patuh atas dasar cinta kepada Allah dalam segala aspek kehidupan. Melaksanakan hidup sesuai dengan petunjuk yang diberikan Allah.


2. Akhlak terhadap Rasulullah. Akhlak kita terhadap Rasulullah akan sendirinya kita ketahui, pahami, dan selanjutnya kita amalkan bila kita telah mengenalnya (ma’rifat). Diantara akhlak utama kepada junjungan kita tersebut adalah membenarkan apa yang dibawa, taat kepada apa yang diperintahkan, menjauhi apa yang dilarang.


3. Akhlak terhadap Diri. Akhlak terhadap diri atau pribadi merupakan pemenuhan kewajiban manusia terhadap dirinya sendiri. Hak-hak jasmani dan ruhani harus dipenuhi. Memberikan makanan dan minuman yang halal dan baik , berolahraga dengan teratur, istirahat dengan cukup adalah beberapa hal yang terkait dengan akhlak terhadap jasmani kita. Menuntut ilmu, aktif di kajian-kajian islam, dzikir merupakan beberapa contoh pemenuhan kebutuhan rohani.


4. Akhlak terhadap Manusia. Lemah lembut dan kasih sayang (QS Al Maidah(5) : 54) terhadap sesama muslim serta bersikap tegas kepada orang kafir (QS Al Maidah(5) : 51) merupakan akhlak penting ketika bergaul dengan makhluk sesama manusia. Namun tentunya masih banyak lagi yang harus kita perhatikan. Tentunya ada perbedaan antara berakhlak kepada ayah, ibu, adik, teman, tetangga, dan istri. Masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Adalah sangat tidak tepat kita berakhlak kepada orang tua disamakan akhlak kita kepada adik atau teman kita.


5. Akhlak terhadap Lingkungan. Akhlak terhadap lingkungan tidak hanya terkait dengan pemanfaatan potensi sumber daya alam, dimana didalamnya terkait dengan masalah eksplorasi, pelestarian dan pengembangan sumber daya alam. Namun juga akhlak kita terkait dengan masalah interaksi sosial, hubungan kemasyarakatan. Seperti kita selaku mahasiswa dengan lingkungan disekitar tempat kita tinggal (kost). Kepedulian terhadap lingkungan dimana kita berada menunjukkan akhlak kita kepadanya. Bukankah orang yang paling baik adalah orang yang paling bermanfaat bagi lingkungannya.


6. Akhlak Profesi. Yang dimaksudkan disini adalah pedoman-pedoman akhlak yang ditujukan kepada pemegang pekerjaan di bidang tertentu dalam tingkat apapun. Semua aktivitas profesi harus dan pasti mempunyai nilai-nilai etik (kode etik). Misalnya dokter, dosen/guru, pegawai negeri, pengacara, hakim dan sebagainya. Allah dalam An-Nahl ayat 90 memerintahkan agar orang berbuat adil dan ihsan. Yang berarti menjalankan profesi dengan ikhlas, jika haknya memang menerima imbalan jasa hendaklah menuntut yang menjadi haknya. Motif kerjasama dan tolong menolong hendaknya mendasari setiap pelaksanaan profesi apapun. Menjalankan tugas dengan profesional merupakan akhlak yang diruntut bagi setiap pengemban amanah.




Referensi:Dr. Muhammad al-Ghazaly, “Karakter Muslim”, Penerbit Ar-Risalah
Selengkapnya...

Posted by SHANDY on 15:30
Labels: ,

PENDAHULUAN

Ajaran Islam dengan cahaya kebajikannya telah menerangi kehidupan umat manusia. Islam menorehkan sejarah (hingga saat ini dan masa-masa yang akan datang) dengan tinta emas kemuliaan ajaran-Nya. Tak terhitung lagi pengakuan dalam sejarah tentang tingkah laku (akhlak) yang baik dari pemeluknya. Dari kondisi aman hingga perang besar, dari anak-anak hingga yang tua, dari siang hingga malam, perjalanan Islam tak pernah lepas dari ketinggian akhlak, keluhuran budi, keindahan krama, kemuliaan jiwa. Karena memang akhlak ditempatkan dalam posisi yang sangat tinggi.


PENGERTIAN AKHLAK

Kata akhlak berasal dari bahasa Arab “ Akhlaaq”, bentuk jama’ dari kata “Khuluq” yang berati tabiat, watak, perangai, dan budi pekerti. Al Ghazali memberi batasan sebagai berikut :

Khuluq adalah suatu sifat yang melekat dalam jiwa, darinya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa pertimbangan pikiran terlebih dahulu.

Dari batasan ini maka akhlak merupakan kebiasaan-kebiasaan pada diri seseorang, sehingga perbuatannya dilakukan secara spontan, tanpa pertimbangan akal terlebih dahulu, dan didalam melakukan perbuatan itu tidak ada perasaan terpaksa.
Akhlak ada dua macam akhlak baik (karimah) dan akhlaq buruk (madzmumah). Tentunya dibutuhkan parameter atau ukuran-ukuran akhlak itu dikatakan baik atau buruk. Dari sini timbul pertanyaan tentang sumber-sumber akhlak.


III. SUMBER-SUMBER AKHLAK

Rasulullah saw diutus dengan tugas menyempurnakan budi pekerti dan membina akhlak, seperti dinyatakan dalam hadist:

Bahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” (HR Bukhori dalam adab Al Mufrad).

Perilaku Rasulullah saw sendiri berpola pada wahyu Allah yaitu Al Qur’an. Aisyah ditanya mengenai akhlak Rasulullah,

“ Sesungguhnya akhlak Rasulullah itu adalah Al Qur’an “(HR Muslim).

Hadist tersebut menunjukkan bahwa Al Qur’an merupakan sumber utama dan pertama bagi akhlak. (QS 68:4). Selanjutnya selain Al Qur’an, sumber lainnya adalah Sunnah Rosul.
Manusia juga mendapatkan karunia dari Allah berupa hati nurani yang dapat membedakan antara hal-hal yang baik dan yang buruk, sebagai mana diriwayatkan dalam Hadits Nabi riwayat Ahmad bahwa pada suatu hari seorang sahabat bernama Wabishah bertanya kepada Nabi tentang al-birr (kebaikan) dan al-itsm (dosa, keburukan), yang kemudian diberi jawaban oleh Nabi SAW : “Hai Wabhisah, bertanyalah kepada hati nuranimu sendiri: kebaikan adalah sesuatu yang jika kau lakukan jiwamu merasa tenang, hati nuranimu pun merasa tenteram, sedang keburukan adalah sesuatu yang jika kau lakukan jiwamu bergejolak dan hati nuranimu pun berdebar-debar, meskipun orang banyak memberi tahu kepadamu (lain dari yang kau rasakan)”.


IV. URGENSI AKHLAK ISLAMI

1. Hakekat Manhaj Madrasah
Seorang muslim sudah seharusnya menghiasi dirinya dengan akhlaq islami seperti jujur, amanah, penyantun, pemaaf, tawadlu, bermurah hati dermawan dan tidak kikir. Karena sesungguhnya hakekat dari manhaj madrasah dapat diringkas dalam dua kata saja, yaitu: berhias dengan akhlaq mulia dan melepaskan diri dari akhlak yang tercela.

2. Tujuan berkomitmen pada madrasah pembinaan
Tujuan atau sasaran dari komitmen pada media pembinaan ini adalah meluruskan moral, membenahi hubungan sosial kemasyarakatan. Sehingga setelah mengikuti pembinaan akan memiliki akhlak yang sesuai dengan dengan Al-Quran dan sunnah Rasulullah

3. Pengaruh terhadap masyarakat
Seorang muslim dengan akhlak mulia akan menjadi daya tarik tersendiri terhadap masyarakat disekitarnya. Hal ini akan membuka hati masyarakat untuk mengantarkan mereka kembali kearah kemuliaan, kekuatan dan izzah.


V. DASAR-DASAR AKHLAK MULIA

Al Islam dengan syariatnya yang meliputi seluruh aspek kehidupan, telah memberikan manhaj metode pembinaan akhlak eluruh manusia. Manhaj ini mengarahkan tabiat-tabiat mereka ke arah yang lebih baik dan mematangkan akhlaqnya agar sempurna.
Seorang muslim yang tidak menghiasi dirinya dengan akhlaq mulia dan sifat-sifat terpuji maka masyarakat tidak tertarik pada mereka atau bahkan menjauh dari mereka. Dampak yang lebih jauh adalah meragukan kebenaran ajaran Islam.
Susunan dasar-dasar manhaj akhlaqiyah yang yang terpenting seperti di bawah ini :
1. Jujur (Shiddiq)
Kejujuran merupakan tanda-tanda keutamaan atau kemuliaan, menumbuhkan tsiqoh (rasa percaya) dan berbuah keihklasan. Rasulullah memotivasi umatnya agar bersifat jujur :

“Dari Ibnu Ibnu Mas’ud Ra berkata, Rasulullah SAW bersabda wajib atasmu jujur, maka sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa ke syurga, dan seseorang terus belaku jujur dan memeliharanya sehingga dia ditulis disisi Allah sebagai orang yang jujur”. (HR Bukhari Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi)

2. Amanah
Amanah adalah akhlaq yang mulia. Ia lahir dari bibit dan asala yang baik serta hasil pembinaan dan pemeliharaan yang istimewa. Orang mempunyai sifat amanah akan diperbincangkan banyak orang sehingga akan dengan cepat dipercaya orang banyak dan dikagumi. Ada tiga dimensi amanah:

a. Amanah Maal (Harta)
Yaitu menunaikan atau mengeluarkan bagian yang merupakan hak seseorang, apakah itu titipan atau berupa Zakat.

b. Amanah Tahadduts (berbicara)
Yaitu bicara secara jujur pada suatu kabar atau pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Apabila seseorang terkenal sebagai pembohong dalam masyarakat maka jatuhlah harga dirinya, hilang kharismanya dan pengaruhnya sehingga diacuhkan oleh orang banyak.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghianati Allah dan Rasul (muhammad) dan (juga) janganlah kamu menghianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al Anfaal :27)

c. Amanah Tabligh
Yaitu menjelaskan apa yang wajib disampaikan, secara hukum tidak boleh menyembunyikan keterangan dan petunjuk yang telah diturunkan Allah SWT. Bila seseorang telah menghianati ilmu, menyembunyikan kebenaran maka dia akan mendapatkan kemurkaan Allah serta la’nat dan siksanya.




Sesungguhnyaorang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah kami menerangkan kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati pula oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati. [2: 159]

d. Akhlaq Hilm (penyantun)
Maknanya adalah menyembunyikan kekasaran, menyambung silaturahim, memaafkan dan berlaku baik pada orang yang pernah mendholiminya. Allah menyukai oang yang mempunyai sifat seperti ini.

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” [3:134]

Adalah pendapat yang keliru bila sifat penyantun itu hina. Justru sifat ini akan menarik simpati orang lain dan akan membawa pada keinginan mereka untuk mendapatkan hidayahNya yang lebih banyak.

e. Akhlaq Tawadlu

Tawadlu berarti merendahlan diri. Dengan ketawadluan inilah seorang muslim akan mamu mengajak orang lain untuk mengembalikan ketinggian dan kemuliaan manusia dibawah naungan cahaya-nya. Berikut ini contoh sikap tawadlu’:
a. Mengucap salam terlebih dahulu dan bersosialisasi dalam perkumpulan/kegiatan.
b. Memakan makanan yang ada dihadapannya ( yang telah tersedia) meskipun tidak menarik selera.
c. Berpakaian sederhana dan berjalan dengan tidak angkuh.

f. Akhlaq Karim (murah hati)

Karim adalah sifat kejiwaan yang mulia dan kepekaan sosial yang tinggi. Ia tumbih dari kebenaran iman, kebersihan hati dan kesucian jiwa. Malaikat di langit mendoakan bagi orang yang mempunyai sifat ini agar mendapatkan kebaikan dan barokahnya.
“Tidaklah ada satu haripun yang hamba-hambaKu berada di waktu paginya melainkan dua malaikat turun kepadanya, maka berkata salah satunya:Ya Allah! Berilah orang yang selalu murah (pemurah) itu gantinya dan yang lainnya mengatakan: Ya Allah! Berikanlah kepada orang yang kikir kehancuran.” (HR Syaikhoni)





VI. DAFTAR PUSTAKA

1. M Nipan Abdul Halim, Menghias diri dengan akhlaq terpuji, Mitra Pustaka, 2000
2. Abdullah Nasih Ulwan, Tarbiyah Akhlaqiyah, Amal Sehat Press, 1994.
Selengkapnya...

Search